DPW Partai Gelora Indonesia NTB Bentuk Relawan “Blue Helmet” Tangani Bencana Lombok – Ampenan Post

DPW Partai Gelora Indonesia NTB Bentuk Relawan
Dikirim. Foto: Gerakan "Blue Helmet NTB" Bantu Warga Terdampak Banjir Lombok.

Lombok Barat, Ampenanpost.com- Bencana banjir di kabupaten Lombok Barat yang terjadi pada Senin, (6/12/21) mengakibatkan 5 korban jiwa, puluhan luka-luka, rumah rusak serta kerugian materil yang tak terhitung.

Bencana tersebut serentak membangkitkan kepedulian dan uluran tangan semua pihak, baik pemerintah sebagai pemangku kebijakan maupun gerakan kerelawanan. Hal ini semata-mata dilakukan sebagai upaya menciptakan rasa aman terhadap warga terdampak bencana.

Salah satu kelompok relawan yang terlihat konsisten memberikan bantuan bagi korban banjir di Lombok Barat adalah eksponen relawan yang terhimpun dalam relawan “Blue Helmet”.

Gerakan “Blue Helmet” sendiri merupakan kelompok kerelawanan yang diinisiasi oleh Partai Gelombang Rakyat (Gelora) Indonesia. Hal ini sebagai bentuk penghikmatan Partai Gelora Indonesia untuk merespon soal-soal kemanusiaan, salah satunya bencana alam.

Di NTB, gerakan “Blue Helmet” ini berada langsung di bawah kendali Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Partai Gelora Indonesia, NTB. “Blue Helmet” sendiri membawa pesan simbolik yang menjadi ciri khas Partai Gelora Indonesia dengan warna birunya.

Ketua DPW Partai Gelora Indonesia, NTB Lalu Pahrurrozi, ST., M.E., mengatakan bahwa gerakan “Blue Helmet” ini merupakan salah satu wadah yang diharapkan dapat mendorong bangkitnya solidaritas sosial dalam menghadapi bencana. Upaya kolaboratif, kata L. Pahrurrozi, merupakan salah satu kunci penanganan bencana.

“Kita mesti bisa berkolaborasi bersama untuk menyelesaikan dampak bencana. Membangun dapur umum, memberbaiki sanitasi lingkungan, memberikan pendampingan kepada korban yang terdampak, serta gerakan sosial lainnya,” kata pria yang kerap disapa Ojik itu.

Ia menambahkan, bahwa bencana yang datang silih berganti, seharusnya memberikan pelajaran bagi semua pihak. Selanjutnya, ia juga menjelaskan bahwa dalam kondisi bencana, agama telah memberikan konsep yang secara eksplisit bisa digunakan dalam merespon bencana tersebut.

“Bencana datang berulang kali. Situasi terakhir ini hendaknya menyadarkan kita. Pertama, memperkuat modal sosial kita untuk mengatasi berbagai bencana dan cobaan yang datang. Agama memberikan dorongan kuat untuk terus berbuat kebaikan dan menolong sesama,” tegasnya.

Ia juga menyorot soal kondisi lingkungan yang memang rentan mengakibatkan terjadinya bencana. Salah satu aktivitas yang bisa minimal mencegah terjadinya banjir adalah dengan merawat lingkungan.

Hal inilah, kata L. Pahrurrozi yang juga telah diupayakan oleh Partai Gelora Indonesia, khususnya di NTB. Pasalnya, dua pekan yang lalu, Pertai Gelora Indonesia telah menujukkan kepeduliannya terhadap lingkungan dengan melakukan gerakan menanam 10 juta pohon di seluruh Indonesia. Program ini merupakan aktivitas berkelanjutan yang sedang diupayakan sebagai syiar kebaikan kepada sesama.

“Yang kedua, yang penting juga, munculnya kesadaran bagi kita, bagi pengambil kebijakan publik, juga bagi warga negara. Mari kita jaga lingkungan kita tetap lestari, pohon-pohon kita tumbuh untuk menahan air. Benteng paling utama utk menahan banjir pada waktu mendatang yaitu mengembalikan fungsi lingkungan,” tegasnya.

Melalui gerakan “Blue Helmet” inilah, Partai Gelora Indonesia, NTB menujukkan keseriusannya guna merespon soal lingkungan dan kemanusiaan. Setiap pembangunan, atau apapun itu, kata Ojik, tidak boleh mengesampingkan aspek lingkungan. Dan hal tersebut akan bisa tercapai dengan kerja bersama.

“Partai gelora sadar dengan itu. Karena itu, kami menggiatkan gerakan menanam pohon. Kita mesti meyakinkan, pembangunan kita menjaga lingkungan, bukan merusaknya. Kita mesti memastikan, pertumbuhan aktivitas manusia, tidak merusak fungsi2 utama lingkungan.
,” tukasnya.

Ketua gerakan “Blue Helmet NTB,” Arifrahman menceritakan kegiatan yang dilakukan relawan “Blue Helmet NTB” telah dimulai sejak hari pertama bencana banjir terjadi di NTB, khususnya di Lombok Barat. Salah satu hal yang menjadi perhatiannya adalah soal minimnya akses korban terdampak banjir terhadap air bersih.

Hal ini dikarenakan kondisi saluran air yang masih belum stabil musabab banjir. Untuk ini, selain membagikan logistik berupa makanan dan kebutuhan pokok lain seperti pakaian, relawan “Blue Helmet” fokus membantu pemulihan kualitas air di sumur warga terdampak.

“Maka relawan Blue Helmet mengambil bagian dalam kegiatan normalisasi sumur warga karna sampai saat ini belum ada Lembaga kemanusiaan yang melkukan kegiatan ini, padahal masyarakat sangat membutuhkan air bersih untuk mencuci pakaian dan alat rumah tangga yang kotor akibat terandam banjir lumpur,” ucap Arifrahman saat ditemui di lokasi bencana di Gunungsari, Lombok Barat.

Banjir tersebut memang mengakibatkan ratusan sumur warga terendam air lumpur sehingga tidak bisa dipergunakan sebagaimana mestinya.  Sumur sebagai sumber air bersih warga telah bercampur dengan lumpur dan kotoran yang terbawa banjir.

Kegiatan normalisasi sumur itu fokus dalam dua hal yakni, penyedotan lumpur pada sumur dan pemberian bahan sterilisasi bakteri dan penjernih.

Kegiatan relawan “Blue Helmet NTB,” kata Arif, akan terus dilakukan hingga kondisi warga terdampak banjir Lombok Barat telah normal. Pihaknya mengajak semua elemen untuk bahu-membahu memberikan rasa aman dan nyaman bagi warga terdampak banjir.

“Kita akan tetap konsisten melakukan kegiatan ini, mulai dar pagi hingga malam, hal itu dilakukan semata-mata sebagai bentuk pedulian relawan blue helmet dan partai gelora NTB kepada masyarakat,” tutupnya.

Posko komando tanggap bencana “Blue Helmet” sendiri berada di Kantor DPW Partai Gelora Indonesia NTB di Jalan Langko, Mataram tepatnya di Timur Masjid At -Takwa.(**)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here