Angka Pernikahan Dini di Lombok Tengah Masih Tinggi – Ampenan Post

Angka Pernikahan Dini di Lombok Tengah Masih Tinggi
Ilustrasi Pernikahan Dini (Ampenanpost.com/Istimewa)

Lombok Tengah, Ampenanpost.com Angka pengajuan dispensasi perkawinan di Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB), masih sangat tinggi, salah satunya di Kabupaten Lombok Tengah terhitung semenjak Januari 2021 lalu hingga bulan Desember saat ini sudah mencapai 300an anak usia dini yang mengajukan dispensasi perkawinan di Pengadilan Agama Praya, Lombok Tengah (Loteng).

Hal itu diduga karena beberapa faktor, terutama dengan masalah Covid-19 ini. Yang mana seperti diketahui bahwa seluruh siswa diharuskan untuk belajar dari rumah (daring) selama batas waktu yang belum ditentukan.” Selain tidak masuk sekolah ada juga faktor lain, seperti sudah pacaran lama hingga melakukan selarian seperti adat kita di Lombok ini,” ungkap Salman Selaku Panitra Muda Hukum, Pengadilan Agama Praya, Senin (20/12/21).

Dikatakan Salman, Pernikahan dini yang disebutkannya itu rata rata dibawah Umur 19 tahun. Seperti yang sudah diatur untuk bisa mengajukan Dispensasi nikah yang dimaksud dalam UU no.1 tahun 1974 adalah penyimpangan terhadap usia pernikahan yang telah ditetapkan, yaitu 19 tahun bagi laki-laki dan 16 tahun bagi perempuan. Oleh karennya, pihak dari pengadilan agama praya sering kali memberikan upaya mediasi guna si pengaju untuk melanjutkan studinya terlebih dahulu, setidaknya kurang lebih 6 persen dari yang mengajukan pernikahan ini tidak dikabulkan (Ditolak) majlis hakim.” Kalau si pengaju ini masih terlalu kecil kita sering tidak kabulkan, kita upayakan untuk membicarakannya dengan kedua orang tua mempelai, dan kita sarankan untuk melanjutkan sekolahnya,” ucapnya.

Tak samapai sana, Salman menyebutkan bahwa ada beberapa kecamatan yang terhitung paling tinggi pengajuannya. Seperti kecamatan praya, pujut, praya timur, praya barat daya, dan Praya barat.” Semuanya sama, tapi yang paling dominan kalau di praya sendiri di desa bunut baok paling banyak, tapi sudah rata rata ada saja yang mengajukan (Dari Desa lain red),” sebutnya.

Dikatakan Salman, majlis hakim terlebih dahulu melakukan penolakan, sebelum melakukan upaya lain, dan mengharuskan untuk memenuhi beberapa syarat terlebih dahulu sebelum melakukan pengajuan dispensasi pernikahan.” Kita tetap upayan tidak mengkabulkan terlebih dahulu, lalu setelah itu kita cek kesehatan, selanjutnya kita lihat hak asasi anak,” pungkasnya.

Selain angka dispensasi pernikahan dini yang tinggi, Salman juga menyebutkan bahwa Angka perceraian yang tidak kalah meningkat dari tahun yang lalu. Sehingga dari 10 kabupaten dan kota yang ada di Nusa Tenggara Barat (NTB), Lombok Tengah tercatat paling tinggi angka perceraiannya.(DI)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here