Pengerjaan Lapen di Desa Sukarara “Diduga” Disunat Pemdes.

Pengerjaan Lapen di Desa Sukarara
Papan publikasi yang terpampang di program pengerjaan lapen, serta seorang warga yang sedang mengukur proyek lapen di desa Sukarara. Ampenanpost.com

Ampenanpost. Berawal dari kecurigaan masyarakat setempat tentang pengerjaan lapen di Dusun Dasan Duah, dan Dusun Bunsambang. Dimana proyek tersebut dinilai janggal dalam anggaran serta volume jalan yang dikerjakan oleh Pemerintah Desa sukarara, Jonggat, Lombok Tengah (Loteng), Nusa Tenggara Barat (NTB).

Tercatat jelas melalui papan publikasi yang terpampang di program pengerjaan lapen, Volume pengerjaam yang terpampang di papan publikasi itu sekitar 1.400 m, namun setelah diukur lansung oleh masyarakat kemarin pada hari kamis (9/9/21), di lokasi pengerjaan. Hadir juga dalam proses pengukuran tersebut pendamping desa dan empat anggota Badan Permusawaratan Desa (BPD) sukarara.

Muhadis salah satu warga desa sukarara juga tergabung dalam Forum Pemuda Desa (FPD) Sukarare mengatakan, dugaan ini berawal dari kecurigaan setelah menanyakan kepada salah satu anggota BPD desa sukarare, bahwa jumlah anggaran yang sudah tersetujui oleh BPD bersama kepala Desa di APBDES tahun 2021 yang di ketok pada tahun 2019 dengan jumlah anggaran sekitar kurang lebih 500 juta dengan volume pengerjaan sekitar kurang lebih 1.400 m sesuai yg di pampang di papan publikasi.” Tapi pada saat dieksekusi, di tahun ini telah masuk dana aspirasi salah satu dewan provinsi di lokasi yang sama, dan oleh pemerintah desa sukarare, volume yang sudah tercover oleh aspirasi itu, malah tidak di kurangi, kan janggal ini. Dan Ketika di ketahui sama masyarakat saat itu, mereka jawab untuk yang 102.meter itu di alikan ke dusun bun manggung,”Ucapnya.

Dengan hal itu lanjutnya, Sehingga muncul pertanyaan dari masyarakat bahwa, kalau anggaran yang sudah tercover oleh aspirasi dewan, seharusnya pihak pemerintah desa mengurangi volume proyeknya.”lalu kenapa volumenya tetap sesuai dengan perencanaan yang sudah di setujui oleh Kades bersama BPD. Maka itu yang mendorong kami melakukan pengukuran untuk memastikan volume pengerjaannya, anggaran yang akan terpakai menurut asumsi saya ada sekitar 37 juta,”Ujarnya.

Kemudian Nang atau Melut sapaan akrabnya mengatakan, ia juga memprotes pemerintah desa terkait pengerjaan lapen tersebut.”ini kan sistem pengerjaannya swakelola, tapi kenapa yang mengerjakan proyek ini justru orang luar, kalau hanya sekedar penimbunan kami mampu mengerjakannya,”Terangnya.

Belum lagi, ucap melut, material yang digunakan, Seharusnya memakai batu bulat dengan ukuran 5×7, tapi faktanya batu bulat yang digunakan 3×5, bahkan lebih kecil dari 3×5.”karena dengan begitu maka ketingginya kurang dari 5cm, yang seharunya aturan lapen itu tingginya atau ketebalannya 7cm,” Ucapa Nang.

Tempat yang sama, Syamsul Bahri salah satu anggota BPD Desa sukarara saat di tanya oleh awak media terkait hal ini mengatakan, saya mengapresiasi partisipasi masyarakat dalam rangka menjunjung tinggi transparansi dan akuntabilitas sesuai amanat permendagri no.20 tahnun 2018 tentang pengelolaan keuangan desa.”saya juga ikut curiga sebagai anggota BPD, dimana kalau mengacu pada regulasi baik permendagri maupun peraturan bupati (perbup) tentang pengelolaan keuangan desa bahwa keterlibatan perangkat Desa dan perangkat wilayah juga, seperti LKMD sesuai tupoksinya aktif dalam kegiatan pengelolaan keuangan desa,”Lanjutnya.

Syamsul melihat kalau anggaran untuk Lapen ini, perangkat Desa sangat antusias, akan tetapi syamsul bandingkan dengan kegiatan kampung sehat misalkan yang sekarang sedang berjalan pengadaan pot bunga.”yang mengerjakan malah pokdarwis tanpa upah sepeserpun, dan saat itu perangkat desa hanya menonton, bagaimana masyarakat tidak curiga den gelagat mereka,”Cetusnya.

Sementara Sekertaris Desa (sekdes) Sukarara saat dihubungi Ampenanpost.com via whatsapp sampai berita ini dimuat belum bisa memberikan komentarnya, hanya centang biru saja.(E011)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here