Bos Walet-Notaris Merasa Dipermainkan Broker Tanah.

Bos Walet-Notaris Merasa Dipermainkan Broker Tanah.
Cuk Wijaya dan Ikhsan Ramdhani Kuasa Hukumnya saat Ditemui Ampenanpost.com Dikantornya.

 

Ampenanpost. Pada tanggal 24 November 2019 lalu adalah awal dari teragedi cerita pembelian tanah yang berada di Desa Kateng, Praya Barat, Lombok Tengah (Loteng), NusaTenggara Barat (NTB). Yang saat ini menjadi bahan bincangan publik, bagaimana tidak, pada saat itulah semua pihak bertemu dan melakukan kesepakatan jual beli.

Cuk wijaya yang saat itu sebagai pejabat notaris mengatakan, Pada 24 November 2019 lalu, ia sebagai notaris, serta Lalu Ading Buntaran, dan Handy sebagai pembeli saat itu melakukan transaksi jual beli tanah, namun pada tanggal 25 November 2019 Si pembeli ini membuat surat penyataan lagi bahwa uang yang dipegang notaris pada saat itu adalah uang titipan. Akan tetapi, pada kesepakatan yang pernah ia buat pada tanggal 24 November 2019 saat itu Si pembeli ini akan membayar tanah tersebut jika delapan dari SHM jadi.” Kita liat isinya lagi disurat pernyataan itu, dia akan berlaku sebagai penitipan jika delapan dari sertifikat itu tidak jadi. Akan tetapi ini kan sudah jadi SHM atas nama Handy (Pembeli), jadi otomatis uang itu dijadikan sebagai uang pembayaran, “Ungkap Cuk Pada Jum’at (17/9/21).

Cuk juga menyamapain, jadi akad jual beli itu disepakatai oleh kedua belah pihak, yakni pihak penjual (Lalu Ading Buntaran), dan Pembeli (Handy) sudah bersepakat untuk melakukan akad. dan setelah ada kesepakatan baru akad jual beli dilakukan.” Dan pada saat itu kan mereka bersepakat untuk melakukan jual beli, jadi saya sebagai notaris tentu akan melaksanakan dari sisi formalnya,” Terangnya.

Dan ia mengaku bahwa, dalam hal ini ia juga dijadikan sebagai korban, bagaimana tidak. Dengan kesepakatan yang pernah ia saksikan pada saat itu untuk membayar tanah, akan tetapi belum selsai melakukan pembayaran dibawah, pembeli mengirimkan surat somasi terhadapnya untuk mengembalikan uangnya, dan melaporkan Cuk di Polda NTB dengan dalih penipuan.” Surat pernyataan itu sudah tidak berlaku lagi, karena sudah ada tanah yang jadi, kalau kita merujuk dari surat pernyataan pada saat itu, jadi saat ini saya sangat merasa dikorbankan,” ucapnya.

Sehingga saat ini, Cuk meminta kepada pembeli, konsep seperti apa yang ia inginkan, sedangkan ia sudah mengajukan dua konsep untuk menyelesaikan permasalahan ini. Namun, sampai hari ini pihak pembeli tak kunjung memberikan respone terhadap konsep yang ia tawarkan.” Konsep yang pertama yakni pengembalian uang oleh penjual, dan yang kedua pengembalian juga tapi ada uang dimuka akan tetapi sistemnya akan dicicil oleh ading, akan tetapi dalam waktu yang disepaktai, tapi Handi ini belum merespone,” lanjut Cuk Wijaya.

Tempat berbeda. Bos pengusaha sarang wallet ternama di NTB, Lalu Ading Buntaran mengaku tidak akan mempersoalkan pernyataan Notaris Cuk Wijaya. Setelah dipelajari disimpulkan jika dirinya bersama Cuk Wijaya merupakan korban dari Handy orang yang mengaku mencari tanah. Namun pada endingnya dirinya ia menduga si pembeli ini memang broker tanah kelas kakap.“Kami rasa, kami berdua ini korban dan menuntut kepada Pak Handy agar segera membayar tanah saya,” tegasnya saat ditemui di kediamannya di Desa Katang, Kecamatan Praya Barat, Kamis kemarin.

Dalam penjualan tanah seluas 17 hektare ini, sudah terlihat jelas dan terang saat ini keduanya adalah korban Handy. Saat ini, Ading masih menunggu etikad baik Handy atau pembeli tanah untuk membayar tanah yang status sudah balik nama atas nama pemilik dengan bantuan pihak notaris.” jadi jelas, Saya bersama Notaris saat ini merupakan korban Pak Handy, ” ungkapnya tegas.

Dari hasil penjualan tanah kosong ini, pihaknya akan menerima pembayaran sebesar Rp 15 miliar. Namun dari permainan yang Ading lihat, kuat dugaan jika Handy merupakan broker tanah kelas nasional. “Kami menduga banyak yang sudah ditipu, tapi dia lupa kalau dia mau bermain di lombok,” Pungkasnya.(E011)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here