Sempat Tegang, Warga Penujak Kembali Jemput Paksa Jenazah Covid-19.

Sempat Tegang, Warga Penujak Kembali Jemput Jenazah Covid-19.
Pantauan dari Sebuah Video Penjemputan Paksa Pasien Jenazah Covid-19 dari Desa Penujak di RSUD Praya. Kamis (12/8/21).

Ampenanpost. Semenjak adanya pandemi Covid-19, tercatat sebanyak 5 kali masyarakat Desa Penujak, Praya Barat, Lombok Tengah. Melakukan penjemputan paksa terhadap Pasien Jenazah Covid-19 di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Praya, Lombok Tengah.

Kali ini, Pasien atas nama Sumiati (47), asal Dusun karang Daye, Desa Penujak. Pasien masuk rumah sakit pada tanggal 8 agustus lalu, rujukkan dari Puskesmas Penujak dengan komorbid kencing manis. Pasien dinyatakan positif covid pada tanggal 9 agustus, 2021 setelah dilakukan swab PCR oleh Tenaga kesehatan (Nakes) RSUD Praya. Pasein dinyatakan meninggal dunia pada tanggal 12 agustus, 2021 dengan kata gori penyakit, penyakit khusus dan penyakit menular (Covid-19).

dr. Yuda Permana, Sp.Dv Humas RSUD Praya menyampaikan, kejadian ini, bukan kali pertama dari desa yang sama (Desa Penujak), pihaknya sudah memberikan pemahaman serta edukasi terkait pemulasaran jenazah. Yakni, yang pertama protokol kewaspadaan dengan juknis dari kementrian Kesehatan (Kemenkes). Dan fatwa majelis ulama Indonesia (MUI) nomor 18 tahun 2020.”Edukasi kita sudah cukup, tapi ada beberapa daerah yang menerima hal itu, dan untuk kasus yang terakhir ini memang agak keras penolaknnya. Bahkan sampai ada yang panjat gerbang di depan pintu ruang isolasi”,Ungkap dr. Yuda Kepada Wartawan kamis (12/8/21).

Tak sampai sana, sekertaris ikatan Dokter Indonesia (IDI) Lombok Tengah itu juga mengatakan, saat itu sempat terjadi ketegangan antara masa dengan pihak Rumah sakit. Dia menduga ada beberapa orang yang menjadi Provokator sehinga keadaan semakin memanas.”ada yang teriak-teriak, sambil memanaskan situsai, dan ada dari mereka yang tidak memakai masker”,Ucapnya.

“Kejadian ini sangat mengganggu kenyamanan di rumah sakit, dan usul dari seluruh nakes kepada satgas (Satuan Tugas) di tingkat desa atau Kelurahan untuk lebih optimal dalam kondisi seperti saat ini. Kalau bisa hadir, seperti yang apa yang ada di Setandar Oprasional Prosedur (SOP) pemulasaran jenazah yang dimana harus melibatkan kepala, dan kepolisian desa setempat”,Tegasnya.

Sementara Kepala Desa Penujak lalu Suharto saat di minta Konfirmasi oleh wartawan terkait hal itu, dirinya tak bisa berkata banyak.”kita sebagai satgas di tingkat desa juga sudah memberikan pemahaman, tapi tidak didengar, jadi tak tau mau gimana lagi”,Jelasnya Singkat.(E011)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here