Direktur MATA NTB dan Korwil NTB PT. TADJI Resmi Dilaporkan ke Polres Loteng.

Direktur MATA NTB dan Korwil NTB PT. TADJI Resmi Dilaporkan ke Polres Loteng
Screenshot. Direktur MATA NTB (MSQ) Kiri, Korwil PT TADJI (RZM) kanan. Dalam Live FB MATA NTB, minggu lalu.

 

Ampenanpost. Merasa sangat dirugikan oleh sikap beberapa oknum, sehingga menjadi buah bibir kalangan masyarakat. Kini, IWS (Ketua BPPD Loteng), dengan resmi melaporkan kasus dugaan tindak pidana Pencemaran Nama baik melalui media sosial atau melanggar Undang Undang elektronik (UU ITE) ke Polres Lombok Tengah, kamis (5/8/21).

Dalam perkara tersebut, pelapor memakai pasal tindak pidana pencemaran nama baik di media sosial Facebook (FB), dan media online. Sebagaimana diatur dalam Pasal 27 Ayat 3, Jo Pasal 45 Ayat 1, Pasal 36 Jo Pasal 51 Ayat 2 Undang Undang Republik Indonesia nomor 11 tahun 2008 Tentang informasi dan transaksi elektronik (UU ITE). Dengan ancaman pidana kurungan 12 tahun serta denda 12 Miliyar Yang diduga dilakukan oleh. Atau di tujukan kepada Direktur MATA NTB (MSQ) , dan RZM yang menyebutkan dirinya Sebagai Kordinator wilayah Nusa Tenggara Barat (NTB)PT. Tahta Djaga Internasional (TADJI) , dikarenakan adanya indikasi dugaan pencemaran nama baik melalui media sosial atau pelanggaran Undang Undang Elektronik (UU ITE).

IWS (Pelapor) melalui kuasa hukumnya Muhanan, SH menjelaskan, kedua terlapor ini, MSQ Direktur MATA NTB dan RZM kordinator wilayah NTB PT. THaji melakukan Live lewat Facebook dengan akun MATA NTB dengan Tema PITSTOP MATA “DIKUDETA KORBAN BPPD”, yang sudah dibagikan 81 kali dan ditonton oleh 495 orang.”ada beberapa pernyataan dalam live itu menurut klien kami yang tidak sesuai, dan tidak pantas untuk diumumkan melalui media, dan itu sangat merugikan kelien kami. Apalagi mengejast klien kami seperti penipu (penjahat dalam KUHP), itu sangat tidak etis”,Ucap Muhanan Kepada Ampenanpost.

Kuasa Hukum pelapor itu juga menyebutkan, kami Sangat menyangkan atas pernyataan-pernyataan dalam Live maupun di media online itu. Pasalnya menurutnya dalam negara kita (Indonesia) yakni sebagai negara Hukum, yang berhak mengatakan seseorang itu penipu adalah putusan pengadilan yang ingkrah. Namun, semua itu diucapkan oleh RZM.”jadi tidak boleh kita asal tuduh seperti itu, padahal jika secara fakta apa yang dikatakan RZM itu tidak benar. Sehingga kami sebagai warga negara yang baik, melaporkan kasus ini”,Tegas Muhanan.

Tak sampai sana, muhanan menjelaskan beberapa hal indikasinya, mulai dari nominal uang yang disebutakan dalam statementnya di salah satu media online, yang menyebutkan jumlah kerugiannya berkisar 11 Miliyar rupiah sudah di transfers ke rekeningnya IWS, sedangkan menurut kliennya (IWS) tidak pernah menerima menerima uang dari RZM ini.”klien kami tidak pernah sama sekali menerima transferan uang dari RZM ini, tapi kok bisa-bisanya mengatakan orang seperti penipu”,Terang Muhanan.

Kemudian, pria kelahiran sukaraja itu juga menyebutkan, ada beberapa pernyataan yang di gelontorkan oleh RZM yang di muat oleh beberapa media online, yang tidak sesuai dengan faktanya. Kemudian itu yang ia cantumkan sebagai bahan aduannya.”menurut klien kami, pernyataan RZM di salah satu media itu, begitu banyak yang tidak sesuai dari fakta sebenarnya, tentu sekali lagi, itu sangat merugikan klien kami”,Beber Muhanan.(E011)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here