Apakah Benar Pengendara Fortuner dan Pajero Sport Sering Dicap Sopir Yang Arogan?

Apakah Benar Pengendara Fortuner dan Pajero Sport Sering Dicap Sopir Yang Arogan?
Mobil Mitsubishi Pajero (kiri) dan Toyota Fortuner (kanan). Sumber Momobil.id

Ampenanpost. Bagi pecinta mobil SUV, mungkin kedua merek mobil ini sudah tidak asing lagi di telinga. Apalagi bagi laki-laki berumur 35 tahun ke atas, pasti lebih memilih kedua mobil ini untuk dijadikan mobil keluarga dibanding mobil-mobil sejuta umat, seperti Avanza atau Xenia.

Ya! Apalagi kalau bukan Mitsubishi Pajero dan Toyota Fortuner yang terang-terangan mendominasi mobil SUV di jalan-jalan Indonesia. Mengapa kedua mobil ini jadi favorit banyak laki-laki? Sebab kedua mobil di atas memang sengaja didesain menyerupai mobil-mobil offroad dan berukuran besar sehingga memang tampak mobil ini punya gaya yang macho dan sesuai dengan jiwa laki.

Apakah Benar Pengendara Fortuner dan Pajero Sport Sering Dicap Sopir Yang Arogan?

Namun ada saja Oknum pengguna SUV ladder frame semacam Toyota Fortuner dan Mitsubishi Pajero Sport sering dicap sebagai pengendara arogan. Memang tidak semuanya, tapi beberapa oknum pengguna Fortuner dan Pajero Sport menunjukkan sikap arogan di jalan raya, bahkan sampai ada yang viral.

Yang terbaru, pengendara Mitsubishi Pajero Sport arogan viral memecahkan kaca truk kontainer di Jakarta Utara. Bahkan, pengendara Pajero Sport itu menganiaya sopir truk menggunakan baton stick. Cerita lainnya, sebelumnya banyak pengguna Fortuner maupun Pajero Sport yang viral karena arogan. Ada yang menggunakan atribut TNI/Polri, pelat nomor palsu, strobo-sirine, sampai ada yang menodongkan senjata. Ehhhh, ngeri deh pokoknya.

Ada beberapa alasan penulis mengapa oknum pengendara Fortuner dan Pajero bersikap arogan di jalan. Pertama, Jenis kendaraan yang dipakai itu mempengaruhi sikap pengendaranya di jalan raya. Kemudian kecepatanya yang dibawah kendaraan yang lain, sebut saja seperti Bus mini atau yang lebih disebut mobil seribu umat. Dan terakhir yakni rasa pengendara yang nyaman dan mewah.

Apakah Benar Pengendara Fortuner dan Pajero Sport Sering Dicap Sopir Yang Arogan?

Demikianlah Beberapa karakter kendaraan yang bisa menimbulkan arogansi pengemudi. Berbentuk tinggi akan terlihat mampu menjangkau semuanya sehingga merasa memiliki kelebihan daripada kendaraan lainnya. Tak hanya itu, pengemudi juga terkadang merasa lebih harus mendapat prioritas dari yang lainnya. Berbentuk kokoh membuat pengemudi lebih insecure apabila harus kontak fisik, atau berpapasan.

Kendaraan-kendaraan dengan jenis itu bisa dimanfaatkan tidak sesuai fungsinya. Untuk menjadi arogan salah satunya memerlukan kendaraan yang tinggi, kuat dan besar. Bahkan warna dapat mempengaruhi juga. Sehingga pengemudi lain malas dekat-dekat mencari masalah, bukan ciut ya.

Dan juga kendaraan inilah yang sering dinaiki oleh ada beberapa jenis kendaraan yang digunakan oleh pihak TNI/Polri sebagai alat transportasi kedinasan. Seperti kendaraan kepala dinas, Anggota Dewan, dan juga petinggi lainnya. Begitu pula dengan kendaraan dinas TNI/Polri itu dilengkapi alat bantu seperti strobo, pelat nomor, dan warna khusus. Mobil SUV jenis ladder frame seperti Pajero Sport dan Fortuner itu cocok menggunakan atribut-atribut tersebut.

Mobil-mobil ini selain menang dimensi, juga menunjang untuk ditempeli atribut itu, karena banyak digunakan petinggi-petinggi atau pejabat maupun aparat. Dan biasanya sopir-sopirnya pasti ngebut. Kayak kejar waktu gitu, hehehh.

Sementara itu, Pengamat Otomotif Yannes Martinus Pasaribu di salah satu media pernah mengatakan cap arogansi menempel jika oknum pengendara mobil tersebut melanggar norma atau bertabrakan dengan aturan. Hal ini berlaku tak hanya untuk mobil SUV saja.

Apakah Benar Pengendara Fortuner dan Pajero Sport Sering Dicap Sopir Yang Arogan?

Desain mobil yang cenderung lebih bongsor juga mempengaruhi kepercayaan diri pengemudi. Akademisi dari Institut Teknologi Bandung ini menyebut mobil SUV ladder frame masuk kategori kendaraan alpha, menjadi lebih berani dan kuat.

“Desain yang ekspansif cenderung membangun citra power yang semakin dominan dan “alpha”. Semua itu dihasilkan dari citra non-verbal melalui dimensi, visual, audio, dan merek yang merepresentasikan citra eksklusif. Menjadi berbeda dan menjadi di atas yang lainnya,” kata Yannes.

Lebih lanjut ia mengungkapkan dengan desain mobil yang lebih kekar tak jarang membuat pemiliknya menyalahgunakan demi kepentingan sepihak. Ia mengatakan pemiliknya menjadi sosok yang merasa lebih berkuasa.

“Jika pada awalnya desain yang ekspansif (dan eksklusif) dikonsumsi orang untuk memberikan penghargaan terhadap prestasinya, selanjutnya desain yang ekspansif tersebut cenderung akan mempengaruhi karakteristik psikologi pemakainya. Ia akan cenderung berperilaku seakan-akan semakin hebat, kuat, berdaya dan berkuasa atas yang lainnya,” jelas Yannes.AP(E011).

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here