Nasib Pendidikan Anak Ditengah Pandemi Covid-19

Nasib Pendidikan Anak Ditengah Pandemi Covid-19

Oleh. Sopia Novitasari Mahasiswi Sosiologi Universitas Mataram

Pandemi covid-19 sampai saat ini masih cukup populer ditengah masyarakat. Hingga saat ini pandemi covid-19 juga mempengaruhi berbagai bidang. Bidang pendidikan salah satunya. Pendidikan merupakan suatu bidang yang ditanamkan sejak masa anak-anak hingga dewasa. Pengertian ilmu pendidikan menurut KBBI adalah pengetahuan tentang prinsip dan metode belajar, membimbing, dan mengawasi pembelajaran.

Makna lain dari pendidikan juga datang dari kata pedagogi (paedagogie, Bahasa Latin) yang berarti pendidikan dan kata pedagogia (paedagogik) yang berarti ilmu pendidikan yang berasal dari bahasa Yunani. Sedangkan orang Romawi melihat pendidikan sebagai educare yaitu mengeluarkan dan menuntun, tindakan merealisasikan potensi anak yang dibawa sejak dilahirkan didunia.

Sebelum pandemi covid-19 merajalela ditengah masyarakat dunia dan tidak terkecuali di Indonesia seperti saat ini, dunia pendidikan berjalan normal. Normal dalam artian sang guru dan murid dalam proses belajar dan mengajar masih menggunakan metode tatap muka atau sekarang disebut offline. Namun dengan maraknya kasus penyebaran covid-19 yang semakin hari semakin meledak jumlah korbannya membuat metode pendidikan yang dulunya offline menjadi online. Perubahan metode ini juga membuat pihak guru ataupun murid merasakan kebingungan, sebab metode online ini mengharuskan mereka untuk mau tidak mau menguasai gadget yang merupakan alat pendukung dalam metode ini.

Pada metode pembelajaran offline, semua proses pembelajaran berjalan lancar. Mengapa demikian ? Karena pada saat proses pembelajaran secara offline guru dan murid bisa bertemu sehingga proses belajar mengajar lebih efektif yang dimana pratek dan olimpiade misalanya bisa dilakukan sehingga mutu pendidikan menjadi lebih baik dan juga metode pembelajaran secara offline dapat memudahkan murid memahami materi. Sedangkan metode pembelajaran secara online menurut saya kurang efektif, dikarenakan dapat menurunkan kreatifitas murid dalam proses pembelajaran dan juga dapat menurunkan kedisiplinan pada murid. Selain itu juga, pemahaman murid mengenai materi juga ikut menurun.

Proses pembelajaran menggunakan metode online seperti sekarang ini juga banyak menimbulkan masalah, baik itu faktor internal maupun eksternal. Faktor internal seperti inisiatif dalam diri kita sendiri untuk mencari tahu yang mulai menurun dikarenakan efek gadget yang serba memudahkan itu membuat diri seseorang menjadi malas. Sedangkan faktor eksternal datang dari luar diri individu seperti, lingkungan, ekonomi, alat belajar dan lain-lain.

Metode pembelajaran secara online saat ini menggunakan sistem Daring (Dalam Jaringan). Daring itu seperti menggunakan video call (zoom, google meet, whatsapp, dll). Sedangkan untuk mengirim tugas murid dan guru bisa menggunakan whatsapp dan email. Semua sistem tersebut dijalankan melalui gadget. Gadget dapat mejalankan semua sistem tersebut karena didorong faktor sinyal yang mendukung serta kuota internet yang memadai. Jika kedua hal tersebut tidak saling mendukung atau seimbang maka gadget tidak dapat menjalankan sistem tersebut dan otomatis proses pembelajaran terganggu.

Penggunaan gadget sebagai alat pendidikan saat ini tentu dibutuhkan oleh semua tingkatan pendidikan, mulai dari tingkatan paling bawah yaitu Taman Kanak-Kanak, SD, SMP, SMA, hingga tingkat perguruan tinggi.

Namun tidak semua murid bisa menggunakan gadget dikarenakan faktor ekonomi yang kurang sehingga untuk mendapatkannya saja merupakan hal yang tidak mungkin bagi mereka, karena kebutuhan hidup yang lain masih banyak yang harus dipenuhi. Seperti yang dikatakan dalam teori Patologi Sosial (Duerkheim), orang-orang menjadi miskin karena gagal mengikuti atau gagal beradaftasi dengan kondisi yang selalu berubah tersebut, sehingga mengganggu keberfungsiannya seperti akses akan informasi terbatas, tidak mampu mengikuti pendidikan, hubungan sosialnya terbatas. Hal tersebut yang membuat orang tetap menjadi miskin karena kalah bersaing (disfungsi).

Dampak bagi anak dari ketidakmampuan ekonomi untuk proses belajarpun beragam, mulai dari memilih berhenti sekolah, memilih untuk bekerja membantu orangtua, hingga memilih menikah diusia dini. Masalah seperti ini banyak terjadi diberbagai tempat. Tidak hanya didesa, dikota sekalipun sekarang banyak dijumpai kasus yang sama. Lalu sampai kapan hal ini terjadi dan bagaimana nasib pendidikan anak ditengah pandemi covid-19 ini?. Semua pertanyaan tersebut merupakan PR bagi kita semua dan juga pemerintah untuk mencari jalan keluar yang baik dari berbagai masalah yang ditimbulkan oleh pandemi covid-19 khususnya dalam bidang pendidikan ini.

Saya sebagai salah satu pelajar berharap semoga pandemi Covid-19 ini cepat berlalu sehingga proses belajar mengajar bisa kembali berjalan lancar seperti biasanya yang dimana menggunakan metode offline atau tatap muka dan tidak menggunakan metode online lagi.

Mungkin Menarik :

Kemunculan Virus Corona dan Pengaruh yang Ditimbulkan dalam Dunia Pendidikan

Dicky

Dampak Dari Kecanduan Bermain Aplikasi Tiktok

Dicky

Negara Kembali Menzholimi Rakyatnya

Dayat

Kebudayaan Lokal Terbawa Arus Pandemi Covid-19

Dicky

POTRET PENEGAKAN HUKUM DI MASA PANDEMI COVID 19 DI KEJAKSAAN NEGERI PRAYA KABUPATEN LOMBOK TENGAH

Toos

Permaslahan Sampah yang tak Kunjung Selesai di Pringgabaya, Lombok Timur

Dicky